MENUJU PERMUKIMAN TROPIS BERBASIS INFRASTRUKTUR HIJAU
Pesatnya perkembangan industri telah mengantarkan perubahan fundamental pada peradaban manusia yang bergerak dari kultur perdesaan ke kultur perkotaan dan meningkatnya perpindahan penduduk dari desa ke kota. Akibat yang terjadi adalah meningkatnya tuntutan hunian sekaligus dengan sarana dan prasarananya, dan terjadi juga alih fungsi lahan dari lahan pertanian dan ruang terbuka hijau menjadi ruang terbangun. Saat ini pencemaran yang berasal dari rumah tangga dan industri menjadi ancaman untuk wilayah perkotaan secara umum. Zat-zat pencemar juga menyebar dan mempengaruhi lingkungan hidup di seluar wilayah, sehingga beban kota dan lingkungan menjadi lebih besar.
Mengingat rawannya gempa di Bengkulu, Pemda Kota Bengkulu melakukan sosialisasi membangun rumah tahan gempa. Bekerjasama dengan Departemen. PU, diharapkan pembangunan rumah di Bengkulu menggunakan konstruksi tahan gempa. Sehingga saat terjadi gempa, rumah tidak mengalami kerusakan yang parah atau roboh. Diterangkan Kadis PU Kota, Ir. Effendi Damri, sosialisasi ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada kontraktor dan pengembang pengembangan perumahan, agar membangun rumah dengan konstruksi tahan gempa. Materi sosialisasi disampaikan Departemen PU Pusat Litbang Permukiman. Rencananya untuk percontohan Pemkot akan membuat 2 unit rumah tahan gempa. Dana yang digunakan berasal dari APBN yang berfungsi untuk menguji rumah tahan gempa. Sehingga, untuk kedepannya rumah di Bengkulu bisa mengacu pada rumah tahan gempa.
Penyelenggaraan sosialisasi peran serta masyarakat berbasis 3 R,dilaksankan berdasarkan kerjasama antara Puslitbang Permukiman Dep.PU dengan Pemerintah Kota Surakarta bertempat di Bale Tawang Arum, Surakarta pada tanggal 15 Oktober 2009. Peserta berjumlah 105 orang teridiri dari ; instansi terkait dilingkungan Pemkot Surakarta, camat di lima kecamatan rawan banjir yaitu Kecamatan Banjarsari, Kec. Jebres, Kec. Laweyan, Kec.Cerengan, kecamatan pasar kliwon 26 kelurahan ,tokoh masyarakat dan ibu-ibu PKK dan masyarakat yang dilalui sungai Bengawan Solo, kali pemulung, kali gajah putih, kali pp, kali anyar.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pemasyarakatan hasil litbang guna meningkatkan nilai kemanfaatan produk litbang bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan tupoksi Puslitbang Permukiman untuk mendiseminasikan setiap produk litbang terkait dengan infrastruktur permukiman untuk dapat diaplikasikan secara lebih luas pada masyarakat. Disamping itu, acara ini juga merupakan salah satu wujud nyata pelaksanaan kerjasama antar instansi pemerintah yang terjalin dengan baik, dalam hal ini Pemerintah Kota Surakarta, BBWS Bengawan Solo dan Pusat Litbang Permukiman.
Empat aspek penting dalam pengelolaan persampahan, yaitu masyarakat penghasil sampah, Dinas kebersihan sebagai pengelola, dukungan sarana dan prasarana yang memadai dan teknologi tepat guna, peran serta masyrakat, dan peraturan yang dapat diaplikasikan secara langsung pada masyarakat.
Pada tanggal 23-25 Juli 2009 bertempat di Kampus Pusat Litbang Permukiman, Jl. Panyaungan Cileunyi Wetan Kabupaten Bandung telah diadakan seminar nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) yang ke XII. Tema seminar nasional kali ini adalah "Rasionalisasi pemanfaatan kayu dan produk hutan lainnya dalam pembangunan guna mendukung upaya mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global".
Adapun latar belakang diadakannya seminar nasional ini adalah dalam kegiatan pembangunan khususnya pembangunan gedung dan perumahan berbagai jenis bahan bangunan telah berkembang dengan pesat baik berbahan dasar bahan baku organik maupun anorganik serta komposit. Kayu dan produk hasil hutan lainnya merupakan bahan bangunan yang masih banyak digunakan dalam pembangunan gedung dan perumahan meskipun berbagai bahan bangunan alternatif telah banyak dikembangkan. Hal tersebut terjadi selain karena kayu dan produk hasil hutan lainnya seperti bambu berasal dari sumberdaya alam yang dapat diperbaharui dan mudah dikerjakan juga telah lama dikenal masyarakat. Sebagai institusi litbang di bawah Departemen Pekerjaan Umum dengan lingkup kerja maslaah infrastruktur perumahan dan permukiman, maka Pusat Litbang Permukiman memiliki komitmen untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan kayu dan produk hasil hutan lainnya yang dapat memberikan alternatif penyediaan bahan bangunan yang memenuhi syarat teknis dan terjangkau untuk dipergunakan dalam memenuhi kebutuhan rumah yang terus meningkat. Di sisi lain, Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) yang didirikan pada tahun 1996 di Bogor telah mengadakan sebelas kali rangkaian seminar nasional yang dilakukan secara bergiliran di berbagai wilayah tanah air. Anggota MAPEKI berasal dari berbagai lembaga litbang, perguruan tinggi, kalangan industri dan swasta terkait.




