Pelatihan Pengembangan Wawasan Bangunan di Lingkungan Diknas, Direktorat PSMA, RI

thumb beritaDilatarbelakangi oleh keadaan mayoritas pegawai yang ada di Direktorat Pembinaan SMA tidak memiliki latar belakang atau berkualifikasi keteknikan sedangkan pekerjaan yang dilakukan sangat berkaitan langsung dengan penilaian kelayakan bangunan gedung, maka Direktorat Pembinaan SMA melakukan pelatihan tata cara penilaian dan mengestimasi kebutuhan biaya rehabilitasi dengan tema ”Workshop Pengenalan Wawasan Bangunan”. Pelatihan ini diadakan bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum. Hal lain yang melatarbelakangi pelatihan ini adalah Undang-Undang nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 45 ayat (1), Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan dan Undang-Undang nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung BAB V Bagian keenam pasal 41 ayat (2).Pengembangan pemahaman UU konstruksi bangunan pada pegawai di lingkup pembinaan SMA, pengembangan pemahaman persyaratan teknis keandalan bangunan pada pegawai di lingkup Pembinaan SMA dan pemahaman penilaian kelayakan bengunan pada pegawai di lingkup Pembinaan SMA merupakan maksud dan tujuan dari pelatihan ini.Output yang diharapkan untuk pelatihan ini adalah agar para pegawai di lingkup Pembinaan SMA: memahami UU konstruksi bangunan, memiliki pemahaman  persyaratan teknis keandalan bangunan dan memiliki pemahaman tentang penilaian kelayakan bangunan. Sedangkan untuk outcome dari pelatihan adalah : terbentuknya sumber daya manusia di lingkungan pembinaan SMA yang paham mengenai bangunan dan Tersedianya bangunan SMA yang handal.Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 7 s.d 9 Maret 2010, bertempat di Hotel Galeri Ciumbuleuit di Jalan Ciumbuleuit, Bandung dan mengundang beberapa narasumber dari Pusat Litbang Permukiman : yaitu Ir. Arief Sabaruddin, CES tentang “Undang-Undang Bangunan Gedung No. 28 tahun 2002” dan “Permen PU dan Permen DIKNAS No. 24 tahun 2007”, Ir. Hartinisari, MT tentang “Persyaratan Teknis Keandalan Bangunan Sekolah pada Aspek Arsitektur untuk Keselamatan, Kesehatan, Kenyamanan dan Kemudahan yang Dikaitkan dengan Permen DIKNAS No. 24 tahun 2007 tentang standar bangunan, Ir. Wahyu Wuryanti, MSc tentang “Persyaratan Teknis Keandalan Bangunan Sekolah pada Aspek Struktur untuk Keselamatan, Kesehatan, Kenyamanan dan Kemudahan yang Dikaitkan dengan Permen DIKNAS No. 24 tahun 2007 tentang Standar Bangunan, Atang Sarbini ST tentang “Instalasi Air Bersih dan Air pada Bangunan Sekolah”, Ir. Agus Sarwono tentang “Instalasi Jaringan Listrik, Pemadam Kebakaran, Penangkal Petir pada Bangunan Sekolah, Dra. Sri Astuti MSA dan Ir. Johni Rachman Dipl. E. Eng tentang “Cara Penilaian Kelayakan Bangunan Sekolah yang Dikaitkan dengan Permen DIKNAS No. 24 tahun 2007 tentang Standar Bangunan”, serta Ir. Nugraha M.Sc dan W.S. Witarso ST membahas topik lanjutan perihal “Cara Penilaian Kelayakan Bangunan Sekolah yang Dikaitkan dengan Permen DIKNAS No. 24 tahun 2007 tentang Standar Bangunan.”Hasil resume dari pelatihan ini adalah sebagai berikut :Kehandalan Bangunan (K4) dinilai dari beberapa segi, diantaranya adalah :

  1. Keselamatan—mampu mendukung beban muatan, mempertimbangkan bentuk bangunan, perhitungan terhadap fungsi bangunan, dinding tahan gempa tidak boleh berukuran lebih dari 12m2, jika lebih maka perlu adanya penguatan terhadap dinding tersebut, Pencegahan terhadap bahaya kebakaran, perlu adanya evakuasi terhadap bencana.
  2. Kesehatan : Dari segi penghawaan—Sirkulasi yang harus disediakan melalui bukaan alam atau buatan, ventilasi silang dengan besaran luas lubang 6 %-10 %, ruangan bebas rokok 20 m3/ jam/ orang, ruangan rokok 30 m3/ jam/ orang, pengotimalan penghawaan alami, untuk KM/ WC dan dapur perlu exhaust fan, dari segi pencahayaan–penggunaan pencahayaan alami&buatan, dari segi persyaratan sanitasi, air minum, air limbah, persampahan, drainase—penggunaan artesis harus menjadi pilihan terakhir, sikap bangunan harus ada pengolahan setempat (tangki septik), harus ada tangki untuk pengolahan limbah, penghematan penggunaan air, perihal persampahan (sampah dikumpulkan ke TPS yang diupayakan terpisah antara organik&anorganik), penggunaan komposter sangat dianjurkan untuk mengurangi dampak akibat sampah, perihal drainase (air hujan dapat ditampung dan diolah untuk membantu penyediaan air bersih khususnya yang berada di lokasi sulit air, peresap terbaik adalah tumbuhan, perihal persyaratan penggunaan bahan bangunan (harus dipertimbangkan bahan lokal agar biaya bangunan bisa dikurangi)—sanitasi yang buruk akan menimbulkan berbagai macam penyakit sehingga diperlukan pemeliharaan yang berkesinambungan, kualitas air yang baik adalah air yang tidak berbau, memiliki suhu yang sesuai dan tidak memiliki mikroorganisme.
  3. Kenyamanan—pertimbangan kenyamanan gerak (fungsi, jumlah pengguna, aktivitas, sarana pendukung dan kecukupan ruang sirkulasi dalam), pertimbangan hubungan antar ruang (fungsi jalur aksesibilitas, lebar jalur selasar, untuk setiap jarak 25 m harus terdapat tangga), pertimbangan pandangan, pertimbangan tingkat getaran dan kebisingan.

 

No comments.

Leave a Reply

*