Diseminasi dan Sosialisasi Standar, Pedoman dan Manual (SPM) Dengan Tema : Melalui Penerapan SPM Kita Tingkatkan Kualitas Pembangunan Infrastruktur Semarang, 14 Maret 2012 dan Yogyakarta, 15-16 Maret 2012

//
Comment0

Dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman  tentang penerapan SPM bagi para pemangku kepentingan di daerah, khususnya mengenai kehandalan bangunan gedung seperti kehandalan arsitektur, struktur dan utility bangunan gedung, maka Pusat Litbang Permukiman melaksanakan diseminasi dan sosialisasi pemahaman Sertifikat Laik Fungsi (SLF) bangunan gedung.

Kedua kegiatan diseminasi dan sosialisasi ini diselenggarakan secara berurutan  bekerjasama dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.  Pelaksanaan di Semarang pada tanggal 14 Maret 2012 bertempat di Patra Convention Hall dan di Yogyakarta pada tanggal 15-16 Maret bertempat di Hotel Saphir. Acara dibagi dalam 2 (sesi) inti yaitu, sesi paparan dari para nara sumber  (70%) dan sesi diskusi atau tanya jawab (30%), serta pameran buku-buku SNI.

Ditegaskan dalam paparan nara sumber bahwa ujung tombak dari proses SLF adalah pemda. Berdasarkan PP no. 36/2005 pasal 71 ayat 1 dijelaskan mengenai kewenangan pemda dalam proses penerbitan SLF. Dalam fakta dari 487 kabupaten dan kota, baru 63 yang memiliki perda bangunan gedung. Sedangkan dari 63 kabupaten dan kota tersebut hanya sebagian kecil yang sudah sesuai dalam penerapannya. Adapun prinsip-prinsip dalam proses penerbitan SLF adalah : terukur, terpercaya, terlaksana. Terukur dengan adanya parameter-parameter yang bisa diukur dengan pasti, terpercaya  karena peralatan sudah terkalibrasi dan lembaga pemeriksanya sudah tersertifikasi ISO 17020, dan terlaksana yaitu pedoman yang tercantum harus bisa dilaksanakan. Aspek-aspek/komponen bangunan gedung yang dinilai  adalah : keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.

Dalam materi keselamatan gedung terhadap bahaya kebakaran, diawali dengan bahasan prosedur keselamatan seperti ; arah evakuasi, pintu keluar dalam ruangan yang memenuhi persyaratan, tersedianya peralatan  proteksi  kebakaran, serta waktu yang dibutuhkan untuk evakuasi.  Dijelaskan pula mengenai dampak kebakaran berkaitan denga life safety, property safety, environmental safety dan industrial safety, FSM (Fire Safety Management), dan implikasi UU no. 28 tahun 2002 mengenai bangunan gedung serta pentingnya penyusunan ataupun revisi atas perda-perda yang mengatur tentang proteksi kebakaran.

Dibahas pula bahwa kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil dan kukuh dalam mendukung beban muatan sama dengan keandalan struktur bangunan gedung tersebut . Beberapa assesmen keandalan bangunan gedung diantaranya berkaitan dengan faktor umur bangunan, kerusakan pada bangunan, perubahan beban kerja, serta  faktor yang mempengaruhinya terdiri dari pemahaman bahan bangunan dan rekayasa konstruksi.  Pemeriksaan awal/visual pada bangunan gedung dapat dilakukan atas komponen struktural  dan non struktural yang bermanfaat untuk mencegah kegagalan struktur.

Pada akhir dari pelaksanaan diseminasi dan sosialisasi ini diharapkan para pemangku kepentingan dapat memahami, menerapkan dan mengimplementasikan SLF guna menjamin keselamatan bangunan gedung di daerahnya masing-masing. SLF dapat menjadi marketing tool sebagai analogi untuk menerapkan green building.

Leave a Reply