Diskusi Teknis, Kajian Kehandalan Bangunan Rumah Tradisional Nias

//
Comment0

Balai Litbang Perumahan Wilayah I Medan mengadakan Diskusi Teknik Kajian Kehandalan Bangunan Rumah Tradisional Nias. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 November 2018 di Hotel Hernelis, Jalan Hili Tobara, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Acara diawali dengan laporan penyelenggaraan oleh Plt. Kepala Balai Litbang Perumahan Wilayah I Medan Agus Sarwono. Dilanjutkan sambutan serta pembukaan oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Kepemudaan, Olah Raga Kabupaten Nias Selatan, Iradat Fau. Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder dan pengamat dari unsur praktisi, akademisi, pemerintahan, dan masyarakat pemerhati perumahan tradisional.

Nias merupakan pulau yang penuh pesona wisata, baik wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu pesona wisata budaya di Nias khususnya Nias Selatan adalah rumah tradisional yang sangat unik dan menarik. Namun sangat disayangkan karena berbagai faktor, banyak rumah tradisional yang telah berubah dari bahan kayu menjadi semenisasi dan pola bangunan telah berubah total. Diskusi teknis bertujuan untuk menjaring masukan dan saran dari peserta diskusi, sehingga mempertajam analisis dan pembahasan dalam rangka penyempurnaan output kegiatan.

Di dalam acara ini, materi yang disampaikan diantaranya terkait overview Kegiatan Kehandalan Bangunan Rumah Tradisional Nias TA. 2018 oleh Ketua Tim Kegiatan Tani Frisda; Arsitektur Nias: Konstruksi Atap Rumbia dan Ketahanan Pangan oleh Yulianto P. Prihatmaji, IPM, IAI (Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta); Belajar dari Arsitektur Tradisional Nusantara oleh M. Nur Fajri Al Fattah (Balai Litbang Sains Bangunan, Pusat Litbang Perumahan dan Pemukiman); dan Kehandalan Struktur Rumah Tradisional Nias oleh Yosafat Aji Pranata (Universitas Kristen Maranatha, Bandung).stand medan2

Rangkaian kegiatan ditutup oleh Plt. Kepala Balai Litbang Perumahan Wilayah I Medan Agus Sarwono. Kesimpulan yang didapat dari pelaksanaan diskusi teknis ini yaitu   Rumah Tradisional Nias terbukti tahan terhadap bencana gempa. Hal tersebut terbukti pada kejadian gempa yang terjadi pada tanggal 28 Maret 2005 sebesar 8,7 SR, tepatnya di Kota Gunung Sitoli. Pusat gempa dibawah permukaan Samudera Hindia antara Nias dan Simeule. Begitu pula gempa yang terjadi pada tanggal 27 Januari 2015 sebesar 5,8 SR pusat gempa 35 – 37 km di Laut Tenggara Nias Selatan. Didukung pula dengan hasil uji Laboratorium Struktur Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman Bandung.

Keberadaan Rumah Tradisional Nias perlu dilestarikan sebagai jati diri daerah dan budaya. Perlu bahan bangunan alternatif karena bahan bangunan yang sesuai aslinya mahal dan semakin langka. Selain itu perlu kaderisasi tukang dikarenakan para tukang ahli rumah tradisional rata-rata sudah berusia lanjut dan semakin langka.  Diperlukan ide Sekolah Tukang Nusantara (khusus tukang untuk rumah tradisional) dan regulasi khusus penanganan rumah adat agar tidak punah. (Agus Sarwono/Putri)

Leave a Reply