Resilience, New Urban Agenda

//
Comments2

Resilience (Ketahanan) menjadi salah satu topik utama dalam pembahasan New Urban Agenda UN Habitat. Oleh karena itu pada hari sabtu tanggal 23 juli 2016, Regional Center for Community Empowerment on Housing and Urban Development (RC-CEHUD), Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman Kementerian PUPR, Persatuan Insinyur Indonesia, dan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) mengadakan workshop dengan pembahasan Resilience Planning and Strategic Implementation (Perencanaan Ketahanan dan Implementasi Strategis Pembangunan Perkotaan) di kampus UNTAG sebagai bentuk parallel event rangkaian PrepCom-3 Habitat III di Surabaya.

Resilience New Urban Agenda (3)

Workshop yang dihadiri oleh 150 orang perwakilan dari berbagai universitas, peneliti, praktisi, hingga pemerintah daerah dibuka oleh Kepala Badan Litbang Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto yang mewakili Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. “Workshop ini menjadi awal yang baik untuk memperlihatkan rasa solidaritas dan komitmen dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. Saya mengajak kepada siapa saja yang memiliki minat besar untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Kita hidup di planet yang sama, maka kita harus bekerja sama,” ungkapnya.

Pada workshop resilience turut hadir Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman Arief Sabaruddin, Staff Ahli Menteri PUPR Lana Winayanti, serta Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 Retno Hastijanti.

Resilience New Urban Agenda (4)

Forum diawali dengan pemaparan para pembicara yaitu Jennifer Senick dari Rutgers University, Jeff Soule dari American Planning Association (APA), Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar Mungkasa, dan Dosen Universitas Diponegoro jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Wiwandari Handayani mewakili 100RC (Resilient Cities) Program Regional Asia – Pasific Rockefeller Foundation.

Jennifer Senick memaparkan dampak yang terjadi jika menghiraukan perubahan iklim. Penebangan hutan liar menjadi salah satu penyebab perubahan iklim ekstrim yang berdampak kepada banjir, kesulitan sumber air bersih, serta kehilangan tempat tinggal. Untuk itu, pola pikir masyarakat harus diubah. “Membuat permukiman tidak hanya memikirkan saat ini tetapi ketahanan permukiman untuk kedepannya harus dipikirkan”, tutur Jennifer.

Senada dengan Jennifer, Jeff mengungkapkan bahwa Ketahanan menjadi hal utama yang harus dipikirkan terkait perencanaan saat dilanda bencana. Perencanaan dan strategi yang tepat akan membantu pemulihan bencana lebih efektif dan efisien. “Di America terjadi bencana banjir hebat, adanya perencanaan dan strategi dapat mengurangi biaya pemulihan,” ungkapnya

Resilience New Urban Agenda (1)

Setelah pemaparan, para peserta yang terbagi menjadi beberapa grup dipersilahkan untuk berdiskusi sesuai topik dan contoh kasus yang diberikan. Diskusi ini dipandu oleh Kemal Taruc selaku moderator dan Jeff.

Di akhir workshop, para peserta memahami konsep awal dari resilience (ketahanan) dalam perencanaan dan strategi terkait pembangunan perkotaan.  

2 Responses

  1. Preparatory Committee Meeting (PrepCom) 3 yang diselenggarakan selama tiga hari (25-27 Juli) di Kota Surabaya dan diikuti oleh 142 negara dengan 2.571 peserta, berhasil menyepakati Draft New Urban Agenda (NUA). Proses negosiasi dan diskusi dilakukan secara intensif baik melalui proses bilateral maupun dalam diskusi pleno.

Leave a Reply