Short Course Real Estate Indonesia

//
Comment0

Puslitbang Permukiman bekerjasama dengan DPP REI menyelenggarakan short course “Efisiensi Pembangunan Perumahan RSH dan Perumahan Umum yang Tahan Gempa” pada tanggal 26 – 27 Maret 2010 di Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman untuk perwakilan anggota REI seluruh Indonesia. Mengawali acara, Kapuslitbang Permukiman, Dr. Ir. Anita Firmanti E. S., MT., memberikan sambutan pengantar dilanjutkan dengan keynote speech dan pembukaan oleh Ir. Zulfi Syarif Koto, Deputi Perumaha Formal, Kantor Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia, serta pengarahan kegiatan oleh Ketua Badan Diklat DPP REI, Ir. Ignesjz Kemalawarta, MBA.Memasuki materi inti short course, para narasumber menyampaikan materi secara bergilir sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ir. Arief Sabarudin, CES narasumber dari Puslitbang Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum salah satunya, mengemukakan tentang perencanaan tata lingkungan permukiman yang mengacu pada “perilaku alam” (morfologi alam termasuk konteks terhadap lingkungan) sebaiknya bukan hanya diatur dengan menggunakan pola “grid” semata. Hal ini disampaikan Beliau dalam bahasan materi yang bertema “Strategi Mengefisienkan Pembangunan Perumahan  Sederhana Sehat (RSH) dan Perumahan pada Umumnya”. Menurut beliau  “Karena bila “perilaku alam” ini dilawan atau diubah maka akan diperlukan effort dan sumber daya yang cukup besar. Konsekuensi dari effort dan sumber daya yang lebih besar ini juga pada akhirnya akan bermuara pada emisi dan energi yang besar pula”, emisi yang dimaksud adalah jumlah karbondioksida yang diperbolehkan dibuang ke atmosfer (sesuai Protokol Kyoto), dengan pertimbangan penyediaan ruang terbuka hijau dan sistem jaringan transportasi maka emisi dan energi yang dihasilkan dapat direduksi”. “Penyediaan ruang terbuka hijau yang menandakan bahwa Building Coverage (BC) untuk perumahan maksimum adalah 60 % dari luas lahan dan sistem jaringan transportasi yang menggunakan pola perencanaan culdesac, loop atau “pola cluster” diklaim dapat mengurangi emisi dan konsumsi energi yang dihasilkan oleh hambatan dan panjang jalan dalam sistem transportasi” papar Arief Sabaruddin kembali yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas Balai Tata Ruang Kawasan dan Bangunan dan Kepala Bidang Standar dan Diseminasi Puslitbang Permukiman. Hal serupa juga dipaparkan oleh Lasino, ST. APU, (Kepala Balai Bahan Banganan Puslitbang Permukiman). Menurut beliau “arah pembangunan dengan prinsip ekoefisien merupakan suatu keharusan karena dengan demikian akan diperoleh nilai manfaat yang lebih besar dari hasil pembangunan tersebut dengan tanpa mengorbankan masalah lingkungan, salah satu implementasi prinsip ekoefisiensi dalam pembangunan yang berkelanjutan adalah penggunaan bahan yang dapat di-recycle, di-recovery dan di-reuse” yang menyajikan materi bertema    “Konsep dan Praktek  Menghasilkan Kualitas Bangunan pada Perumahan RSH dan Perumahan pada Umumnya”. “Setiap pembangunan konstruksi, mestilah menghasilkan suatu produk yang layak dan murah, ini berarti harus memenuhi persyaratan teknis seperti kekuatan, keawetan dan kestabilan, dengan dukungan bahan yang berkualitas diharapkan akan diperoleh hasil/ produk konstruksi yang handal”, tambah Lasino dalam acara yang sama.Selain itu materi-materi lain juga dibahas oleh beberapa narasumber, diantaranya “Analisis Bank dan Peran Asuransi Atas Ketahan Bangunan Rumah Terhadap Gempa” oleh Suparapto, (Dirut  PT. Bina Griya Upakara), Frans Y Sahuselawany, Prof. DR. MT. Zen. “Konsep dan Praktek menghasilkan bangunan tahan gempa pada Rumah Sederhana Sehat (RSH) dan Perumahan pada umumnya” oleh Ir.Maryoko Hadi, Dipl.E.Eng, MT. Keseluruhan acara pembahasan materi dipimpin oleh Ilham M. Wijaya, SE sebagai moderator.Pada hari terakhir pelaksanaan short course diadakan kunjungan ke balai struktur dan konstruksi bangunan balai sains bangunan, balai bahan bangunan, balai lingkungan permukiman dan balai tata ruang bangunan dan kawasan.

Leave a Reply